Selasa, 31 Mei 2016

Prolog

Ibu...
Sebuah panggilan sederhana namun sungguh mulia. Ada pengorbanan tiap detik di detak jantungnya. Ada kesabaran yang selalu tumbuh subur di hatinya. Ia adalah segalanya bagi semesta bagi kita. Kasih sayang dan cintanya membelai fajar dengan embun yang bening. Menyusul matahari dengan sinarnya.
Memeluk bulan dengan kelembutanya.

Kasih sayang dan cintanya seperti lembutnya sinar matahari di waktu dhuha. Seperti lembutnya angin malam di waktu tahajud.

Bila kita kecil menangis, ia akan duluan meneteskan air mata. Bila kita kecil bahagia, ia akan duluan tersenyum dan bahagia. Bila kita jauh darinya, rindu ialah hobi baginya. Bila kita dekat denganya, kita akan merasakan ia adalah sahabat yang sebenarnya.

Menangislah untuk ibumu, menangislah atas kesalahanmu kepadanya. Karena kau tau kawan ia akan selalu bisa memaafkan jutaan kesalahanmu tanpa alasan yang dapat dijabarkan oleh logika.

Jangan berani sekali kau membuat air matanya menetes karenamu kawan, kecuali kau punya nyali melawan ibumu seperti halnya malin kundang dikutuk menjadi batu.

Jangan sekali kau buat hatinya menangis di dalam wajahnya yang sayu kawan, terkecuali kau punya nyali untuk melawan malaikat tak bersayap yang Tuhan turunkan dan berarti kau sselamany menerima azab dari Tuhan.

Ketika seseorang telah kehilangan ibunya sungguh dia akan kehilangan harta paling berharga ialah doa seorang ibu. Ibumu ialah kehidupan duniamu, buatlah ia tersenyum kawan hingga malaikat pun akan menjelma sebagai jembatan kebahagiaan yang berkah dari Tuhan.

Ibumu ialah kehidupan akhiratmu, buatlah ia tersenyum dan malaikat pun akan menjelma sebagai mata air di mata ibumu bening dan suci, sehingga Tuhan pun malu jika tak membuka surga untukmu. Karena ibumu ialah kehidupanmu, berikan yang terbaik untuknya seterusnya dan selamanya.

Subscribe via email